Surah 36: Yasin (33 – 44)

Bukti-bukti Kekuasaan Allah Swt melalui Penciptaan-Nya

Surah 36: Yasin (33 – 44)


Ayat 33

وَءَايَةٌ لَّهُمُ ٱلْأَرْضُ ٱلْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَـٰهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka daripada (biji-bijian) itu mereka makan.

Allah Swt menyatakan antara tanda-tanda yang menjadi bukti dan dalil kewujudan dan keesaan-Nya dalam melaksanakan Hari Pembalasan dan menghidupkan kembali orang yang telah mati adalah menghidupkan bumi yang tandus yang tidak memiliki tumbuh-tumbuhan dengan menurunkan air hujan.

Air hujan ini dapat menyuburkan bumi dan daripadanya Allah Swt mengeluarkan pelbagai macam bentuk tanaman yang dapat dimakan dan dimanfaatkan oleh manusia dan haiwan.

Sebagaimana Allah Swt berkuasa menghidupkan bumi dengan tumbuhan, Dia juga pasti berkuasa menghidupkan manusia setelah kematian.

Firman Allah Swt dalam ayat yang lain:

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan pelbagai jenis buah-buahan sebagai rezeki untukmu……….”

Ibrahim 14:32

Ayat 34

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّـٰتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَـٰبٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ ٱلْعُيُونِ

Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur serta Kami pancarkan padanya beberapa mata air.

Allah Swt juga menjadikan di atas tanah yang subur, kebun-kebun yang ditumbuhi dengan pelbagai tanaman seperti kurma, anggur dan sebagainya. Dia jugalah yang memancarkan aliran-aliran sungai yang menjamin kesuburan kebun-kebun tersebut.

Ayat 35

لِيَأْكُلُوا۟ مِن ثَمَرِهِۦ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

Supaya mereka dapat makan buahnya, dan daripada apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Allah Swt menciptakan dan menganugerahkan semua itu kepada manusia agar mereka dapat makan buahnya dan menikmati hasil usaha tangan mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah Swt memerintahkan hamba-hamba-Nya agar bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat-Nya.

Firman Allah Swt dalam surah yang lain:

“Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa melenyapkannya. Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur, di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian daripada buah-buahan itu kamu makan, dan Kami tumbuhkan pohon (zaitun) yang tumbuh di Gunung Sinai dan menghasilkan minyak serta bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan.”

Al-Mu’minun 23:18-20

Ayat 36

سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

Maha Suci (Rabb) yang telah menciptakan semuanya berpasangan-pasangan, baik daripada apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan daripada diri mereka sendiri mahupun daripada apa yang tidak mereka ketahui.

Maha suci Allah Yang Maha Agung yang telah menciptakan makhluk-Nya di bumi ini semuanya berpasang-pasangan sama ada berupa tanam-tanaman dan buah-buahan, juga manusia daripada jenis lelaki dan perempuan, serta pelbagai makhluk-makhluk yang lain yang tidak diketahui oleh manusia. Semua ini menjadi bukti kebesaran dan kekuasaan-Nya sebagai Pencipta.

Ayat ini adalah perintah agar mensucikan Allah Swt daripada segala kekurangan dan kelemahan, sebagaimana ayat sebelumnya memerintahkan agar bersyukur kepada-Nya.

Firman Allah Swt dalam ayat yang lain:

“Dan segalanya Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingati (kebesaran Allah).”

Az-Zariyat 51:49

Rasulullah saw bersabda:

“Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang daripada kalian, maka hendaklah dia mencelupkan lalat tersebut kemudian barulah dia buang, sebab pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawarnya.”

(HR. Al-Bukhari)

Ayat 37

وَءَايَةٌ لَّهُمُ ٱلَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ ٱلنَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ

Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam. Kami hilangkan siang daripada (malam) itu, maka dengan serta merta mereka (berada dalam) kegelapan.

Ayat 37-44 ini menyatakan lagi bukti-bukti kekuasaan Allah Swt yang agung melalui penciptaan-Nya iaitu:

▪️   Penciptaan malam dan siang.

Allah Swt menciptakan malam dengan kegelapannya dan siang dengan cahayanya. Dia menjadikan malam dengan menyingkap cahaya siang yang terang sehingga apabila cahaya siang itu telah lenyap, datanglah suasana kegelapan. Siang dan malam ini silih berganti secara berterusan. Saat salah satunya pergi maka yang lain datang menggantikannya.

Firman Allah Swt dalam ayat yang lain:

“………….Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb seluruh alam.”

Al-A’raf 7:54

Pada masing-masing gelap dan terang itu terdapat kemanfaatan dan kebaikan. Waktu malam adalah waktu untuk beristirahat daripada sebarang aktiviti. Sedangkan waktu siang adalah waktu untuk melakukan pelbagai aktiviti dan berusaha mencari rezeki.

Ayat 38

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّۢ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

▪️   Matahari yang beredar pada orbitnya.

Allah Swt telah menetapkan peredaran matahari sehingga ia tidak melampaui dan tidak juga menyimpang daripada orbitnya. Ini merupakan pengaturan daripada Allah Yang Maha Perkasa, yang tidak dikalahkan lagi Maha Mengetahui dan tidak ada sesuatupun yang samar bagi-Nya.

Firman Allah Swt dalam ayat yang lain:

“Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.”

Ibrahim 14:33

Daripada Abu Dzarr ra, bahawa beliau bersama Rasulullah saw di dalam masjid ketika matahari terbenam, lalu baginda bersabda:

“Wahai Abu Dzarr, tahukah kamu di mana matahari terbenam?” Saya menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Baginda lalu bersabda, “Sesungguhnya ia pergi sampai ia sujud di bawah ‘Arasy. Itulah makna firman Allah, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.’”

(HR. Al-Bukhari)

Ayat 39

وَٱلْقَمَرَ قَدَّرْنَـٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلْعُرْجُونِ ٱلْقَدِيمِ

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran (manzilah-manzilah) bagi bulan sehingga (ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) maka kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua.

▪️   Jarak-jarak tertentu sebagai tempat peredaran bagi bulan, sehingga setiap saat jarak tersebut mengalami perubahan.

Bulan itu pada awalnya kecil berbentuk sabit, kemudian setelah berada pada tempat peredaran ia menjadi purnama, kemudian pada tempat peredaran terakhir, kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

Firman Allah Swt dalam ayat yang lain:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…………..’”

Al-Baqarah 2:189

Ayat 40

لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

▪️   Masing-masing matahari dan bulan memiliki batasan dan kekuatan yang tidak dilanggari dan tidak pula dikurangi.

Masing-masing matahari dan bulan mempunyai garis edar tersendiri. Oleh itu, tidak mungkin siang menjelma sebelum berakhirnya malam dan begitulah sebaliknya. Adanya pertukaran malam dan siang ini dapatlah manusia mengetahui bilangan tahun dan bulan.

Firman Allah Swt dalam ayat yang lain:

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”

Yunus 10:5

Ayat 41

وَءَايَةٌ لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى ٱلْفُلْكِ ٱلْمَشْحُونِ

Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahawa Kami bawa keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.

▪️   Menjadikan kapal dapat berlayar di atas lautan.

Allah Swt menjadikan lautan dapat menampung kapal yang berlayar membawa beban supaya manusia dapat bergerak dari satu tempat ke satu tempat yang lain. Manusia menggunakan kapal sebagai alat pengangkutan untuk membawa barang dagangan ke segala penjuru negeri bagi memenuhi keperluan hidup mereka.

Ada juga yang mengatakan maksud ذُرِّيَّتَهُم dalam ayat ini ialah merujuk kepada nenek moyang mereka yang diselamatkan oleh Allah Swt dalam bahtera yang dibina oleh Nabi Nuh as. Bahtera ini membawa orang-orang yang beriman bersama baginda dan juga barang-barang yang lain serta binatang-binatang yang berpasangan.

Firman Allah Swt dalam ayat-ayat yang lain:

“Tidakkah kamu memperhatikan bahawa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian daripada tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.”

Luqman 31:31

“Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunang.”

Asy-Syura 42:32

“Rabbmu yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari kurniaan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penyayang terhadapmu.”

Al-Isra’ 17:66

Ayat 42

وَخَلَقْنَا لَهُم مِّن مِّثْلِهِۦ مَا يَرْكَبُونَ

Dan Kami ciptakan (juga) untuk mereka, (jenis-jenis pengangkutan lain) sepertinya (bahtera), yang dapat mereka naiki.

▪️   Menjadikan jenis-jenis kenderaan lain untuk pengangkutan darat dan udara.

Selain itu, Allah Swt juga menciptakan untuk manusia pengangkutan yang lain di darat daripada haiwan tunggangan, kereta dan sebagainya serta pengangkutan di udara iaitu kapal terbang dan sebagainya.

Ayat 43

وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ

Dan jika Kami kehendaki nescaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak (juga) mereka diselamatkan.

Allah Swt Maha Berkuasa untuk menenggelamkan penumpang kapal ke dalam lautan sehingga tiada suatu pun yang dapat menolong dan menyelamatkan mereka.

Firman Allah Swt dalam ayat yang lain:

“Jika Dia menghendaki Dia akan menghentikan angin, maka jadilah (kapal-kapal) itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur, atau (Dia akan) menghancurkan kapal-kapal itu kerana perbuatan (dosa) mereka dan Dia memaafkan kebanyakan (daripada mereka).”

Asy-Syura 42:33-34

Ayat 44

إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَـٰعًا إِلَىٰ حِينٍ

Tetapi (Kami selamatkan mereka) kerana rahmat yang besar daripada Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu waktu tertentu.

Namun dengan rahmat Allah Swt, Dia menghendaki agar mereka tetap hidup dan terselamat daripada segala bahaya baik di lautan mahupun di daratan sehingga ajal datang menjemput mereka pada waktu yang telah ditetapkan-Nya.