Perintah supaya Bersilaturrahim dan Larangan Riba
Surah 30: Ar-Rum (38 – 40)
Ayat 38
فَـَٔاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ ٱللَّهِ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Maka berikanlah hak kepada keluarga terdekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keredhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam agar memberikan hak kepada kaum kerabat mereka dengan menyambungkan silaturrahim, berbuat kebajikan dan memberi bantuan kepada mereka. Ini kerana mereka mempunyai ikatan darah dan nasab sehingga mereka adalah pihak yang paling berhak untuk dijaga silaturrahimnya, dikasihi, dikunjungi dan dibantu.
Selain itu, Allah Ta’ala juga memerintahkan agar memberi orang miskin akan hak mereka. Orang-orang miskin adalah orang-orang yang tidak memiliki apa-apa yang boleh mereka gunakan untuk menafkahi diri sendiri dan orang di bawah tanggunggannya. Begitu juga mereka yang dalam musafir, memerlukan bantuan nafkah dan keperluan-keperluan lainnya selama dalam perjalanan.
Sesungguhnya memberi hak yang ditetapkan dan diakui secara syarak kepada orang-orang yang disebutkan itu adalah lebih utama sekiranya hal itu dilakukan dengan tulus ikhlas hanya mengharapkan keredhaan-Nya dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya. Orang-orang yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.
Allah Ta’ala berfirman dalam ayat-ayat yang lain:
“…….dan memberikan harta yang dicintainya kepada kaum kerabat, anak-anak yatim……….”
Al-Baqarah 2:177
“Dan berikanlah kepada kaum kerabat yang dekat akan haknya, begitu juga kepada orang-orang miskin……….”
Al-Isra’ 17:26
Ayat 39
وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَا۟ فِىٓ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرْبُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن زَكَوٰةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُضْعِفُونَ
Dan (ketahuilah bahawa) sesuatu riba (pemberian atau tambahan) yang kamu berikan, supaya bertambah kembangnya dalam pusingan harta manusia maka ia tidak sekali-kali akan berkembang di sisi Allah (tidak mendatangkan kebaikan). Dan sebaliknya sesuatu pemberian sedekah yang kamu berikan dengan tujuan mengharapkan keredhaan Allah semata-mata, maka mereka yang melakukannya itulah orang-orang yang beroleh pahala berganda-ganda.
Allah Ta’ala menyatakan bahawa harta yang diberikan sebagai hutang dengan tujuan mendapatkan riba dan mencari tambahan daripada hutang tersebut, agar ia berkembang menjadi banyak pada harta-harta manusia, sebenarnya di sisi Allah ia tidak bertambah, malah Dia menghancurkannya dan membatalkannya.
Sementara itu, apa yang diberikan dalam bentuk zakat dan sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya demi mencari keredhaan Allah Ta’ala dan pahala daripada-Nya, maka inilah yang diterima dan dilipatgandakan-Nya dengan gandaan yang banyak. Ini sebagaimana firman-Nya:
“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan gandaan yang banyak……………”
Al-Baqarah 2:245
Dalam hadis sahih Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah seseorang menyedekahkan sesuatu meskipun hanya dengan sebiji kurma daripada hasil yang halal, melainkan Allah Yang Maha Pemurah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkannya buat pemiliknya sebagaimana seseorang di antara kalian memelihara anak kudanya atau anak untanya, sehingga sebiji kurma itu menjadi lebih besar daripada Bukit Uhud.”
(HR. Muslim)
Firman Allah Ta’ala dalam ayat yang lain:
“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba itu tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang dirasuk syaitan kerana gila. Yang demikian ialah disebabkan mereka berkata bahawa adalah sama jual beli dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa yang mendapat peringatan daripada Rabbnya lalu dia berhenti (daripada mengambil riba), maka apa yang telah diperolehnya dahulu adalah menjadi haknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa yang mengulanginya, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan Dia menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang tetap berada dalam kekafiran dan bergelumang dengan dosa.”
Al-Baqarah 2:275-276
Ayat 40
ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَفْعَلُ مِن ذَٰلِكُم مِّن شَىْءٍ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberikan kepadamu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi daripada apa yang mereka sekutukan (dengan-Nya).
Seterusnya dalam ayat ini, Allah Swt menyatakan bahawa Dia adalah Al-Khaliq dan Pemberi rezeki yang menjamin rezeki manusia mulai lahir sehingga meninggal dunia. Kemudian Dia yang mematikan dan menghidupkan kembali pada Hari Kiamat untuk dihimpunkan dan diberikan pembalasan. Oleh itu, Maha Suci Allah Ta’ala daripada memiliki sekutu atau tandingan.
Ayat ini juga menjelaskan bahawa tidak ada satu pun daripada sekutu-sekutu Allah yang dapat mencipta, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan. Allah-lah satu-satu-Nya Zat yang boleh melakukan semua itu dan membangkitkan seluruh makhluk pada Hari Kiamat.
Firman-firman Allah Ta’ala yang lain:
“Mengapakah mereka menyekutukan (Allah dengan) sesuatu (sembahan) yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan (sembahan) itu sendiri diciptakan.”
Al-A’raf 7:191
“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu daripada mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali daripada lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”
Al Hajj 22:73