Surah 22: Al-Hajj (30 – 31)

Perintah Allah Swt Mengagungkan Apa-apa yang Terhormat di Sisi-Nya

Surah 22: Al-Hajj (30 – 31)


Ayat 30

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَـٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ ٱلْأَنْعَـٰمُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَـٰنِ وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan sesiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Dalam ayat sebelumnya, Allah Ta’ala menerangkan tentang perintah-Nya berupa ketaatan dalam manasik haji. Dalam ayat ini, dinyatakan pula bahawa ketaatan-ketaatan itu akan dibalas dengan kebaikan dan pahala yang banyak. Begitulah juga balasannya jika meninggalkan hal-hal yang dilarang.

Allah Ta’ala menghalalkan haiwan-haiwan ternakan kepada manusia kecuali seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan Bahirah, Saibah, Wasilah dan Ham………”

Al-Ma’idah 5:103

Allah Ta’ala memerintahkan manusia menjauhi berhala-berhala. Dia juga mengaitkan perbuatan menyekutukan-Nya dengan perkataan dusta termasuk memberi kesaksian palsu seperti firman-Nya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”

Al-A’raf 7:33

Dalam Sahih Al-Bukhari dan Muslim daripada Abu Bakar ra, Rasulullah saw bersabda:

“Mahukah kamu aku beritahu tentang dosa yang paling besar?” Kami berkata, “Tentu ya Rasulullah.” Baginda bersabda, “Menyekutukan Allah dan derhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu baginda bersandar, lalu duduk dan bersabda, “Hati-hati (kamu daripada) perkataan dusta dan persaksian palsu.” Baginda terus mengulang-ulanginya sehingga kami mengatakan, “Andai sahaja baginda diam.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ayat 31

حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِۦ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ

Serta cenderung kepada Allah, tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Sesiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.

Menunaikan ibadah haji ke Baitullah hendaklah dengan landasan tauhid yang lurus, niat beribadah dengan ikhlas kepada Allah, semata-mata mengharapkan keredhaan-Nya dan tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Kemudian Allah Ta’ala memberikan perumpamaan yang menggambarkan kesesatan orang musyrik, kebinasaannya serta jauhnya dia daripada petunjuk.

Sesiapa yang mengadakan Ilah di samping Allah Ta’ala dan menyembah kepada selain-Nya, sesungguhnya dia benar-benar telah mendapat kerugian yang besar dan jelas kebinasaannya.

Allah Ta’ala membuat perumpamaan dengan menyatakan bahawa sesungguhnya orang yang berada dalam kesyirikan sama seperti orang yang terjatuh dari langit. Lalu tubuhnya disambar dan dicarik-carik oleh burung-burung di udara sehingga dia binasa atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh dan dia binasa tanpa ada harapan untuk selamat.

Tujuan Allah Ta’ala memaparkan dua perumpamaan tersebut adalah untuk memberikan gambaran betapa buruk dan ngerinya keadaan syirik itu dan memberikan kesedaran kepada manusia supaya menjauhinya.

Allah Ta’ala juga membuat perumpamaan lain bagi orang-orang yang mensyirikkan-Nya sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah (Muhammad): “Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan mudharat kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di bumi, dalam kebingungan,’ dia mempunyai kawan-kawan yang mengajaknya ke jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb alam semesta.”

Al-An’am 6:71