Perbandingan Kehidupan di Dunia dengan Kehidupan di Akhirat
Surah 29: Al-‘Ankabut (64 – 66)
Ayat 64
وَمَا هَـٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya jika mereka mengetahui.
Allah Ta’ala membuat perbandingan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan di akhirat. Dia menyatakan bahawa dunia ini hina dan akan musnah, lagi pula apa yang terdapat di dalamnya hanyalah hiburan serta permainan yang melalaikan.
Manakala akhirat pula adalah tempat kehidupan abadi yang tidak ada pengakhirannya. Sekiranya manusia memahami hakikat ini pastilah mereka mengutamakan sesuatu yang kekal daripada sesuatu yang fana.
Allah Ta’ala berfirman dalam ayat-ayat yang lain:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlumba-lumba dengan kekayaan dan anak keturunan……….”
Al- Hadid 57:20
“Dijadikan indah kepada manusia terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang banyak daripada emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternakan dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).”
Ali ‘Imran 3:14
“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (syaitan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”
Fatir 35:5
Ayat 65
فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah).
Kemudian Allah Ta’ala menyatakan keadaan orang-orang musyrik, ketika mereka dilanda bencana dan menghadapi kesulitan, mereka akan berdoa dengan penuh keikhlasan memohon keselamatan hanya kepada-Nya.
Namun ketika mereka telah aman dan selamat daripada bencana, mereka kembali mensyirikkan-Nya. Mereka tidak terus menerus mentauhidkan Allah Ta’ala dengan memurnikan ketaatan semata-mata kepada-Nya dalam segala keadaan setelah terselamat daripada bahaya.
Firman-firman Allah Ta’ala dalam surah yang lain:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, nescaya hilanglah semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia (Allah). Tetapi setelah Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (daripada-Nya). Dan manusia memanglah sentiasa ingkar (tidak bersyukur).”
Al-Isra’ 17:67
“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan……….”
An-Naml 27:62
Ayat 66
لِيَكْفُرُوا۟ بِمَآ ءَاتَيْنَـٰهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا۟ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
Akibatnya mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).
Kembalinya mereka mensyirikkan Allah tidak lain hanyalah kerana mereka mengingkari segala nikmat-Nya dan bergembira untuk menyembah kepada selain-Nya.
Allah Ta’ala membiarkan mereka menjalani kehidupan dengan bersenang lenang di dunia disebabkan kekufuran mereka. Akibat daripada perbuatan mereka ini, Allah menyediakan azab pada Hari Kiamat kelak yang mereka tidak mengetahuinya.
Firman Allah Ta’ala dalam surah yang lain:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami seksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
Al-An’am 6:44