Perintah supaya Bertawakkal dan Bertasbih Memuji Allah Swt
Surah 25: Al-Furqan (58)
Ayat 58
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا
Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.
Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah saw menjadi manusia yang berserah diri kepada-Nya dalam segala urusan. Dia-lah Zat yang tidak pernah mati selama-lamanya, Rabb seluruh makhluk dan raja semesta alam. Dia-lah Zat yang layak diserahi segala urusan dan ditakuti dan Dia-lah juga yang mencukupkan, menolong serta memenangkan baginda.
Ini juga dijelaskan dalam firman-firman Allah yang lain:
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai daripada apa yang kamu kerjakan.”
Hud 11:123
“(Dia-lah) Rabb masyrik (timur) dan maghrib (barat), tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.”
Al-Muzammil 73:9
“Katakanlah, ‘Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kamu bertawakal………’”
Al-Mulk 67:29
Seterusnya Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah saw bertasbih memuji-Nya iaitu dengan menggabungkan antara bertahmid (membaca الحمد لله) dan bertasbih (membaca سبحان الله) kepada-Nya. Daripada ‘Aisyah ra katanya, Rasulullah saw sering membaca dalam rukuk dan sujudnya:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
(Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku). Baginda membaca doa itu kerana mengamalkan perintah dalam Al-Quran (Surah An-Nasr 110:3)
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)